Sabtu, 27 Agustus 2011

kasih judulnya, pliiis


Kayla berlari mengejar sepeda motor di hadapannya, “RAAAAFIIIIIIIIIIIIIIIII, TUNGGUIN GUE!!”, teriaknya pada pengndara sepeda motor yang tengah di kejarnya. Ransel hitamnya berayun ke kanan dan ke kiri karena langkah-langkah lebar yang ia buat untuk mengejar sepeda motor yang untungnya saja kian melambatkan lajunya.
            Rafi menoleh dan mengangkat kaca pelindung kepalanya, keningnya mengernyit menatap Kayla.
            “a, fi! Hosh, hosh, hosh..” ucap Kayla terengah-engah. Ia bersandar pada pundak Rafi dan melirik arloji di lengan kirinya.
            “bur-huan, buru-han, khita hampir thelat!” seru Kayla panik, ia segera meloncat ke jok di belakang Rafi dan menepuk-nepuk pundak Rafi.
            “Aaaah! Gue nggak akan telat, kalau ngga nungguin elo dari pagi, bego! Tidur apa koma sih, di bangunin susah amat!” omel Rafi.
            “Iyaa.. sori, Raf.. udah yuk jalan.. ntar kita ngga dibolehin masuk niiih..” jawab Kayla ringan.
            Rafi mulai melajukan sepeda motornya. Sepanjang jalan menuju sekolah ia mengomel pada Kayla. Sementara Kayla hanya menyahuti dengan gumaman, iya, oooh, hmm, dan maaf.
| >_< | >.< | =.= | =_=”|

Kelas XII IPA 2A, istirahat kedua.

            Hanung menatap Kayla dengan seluruh keseriusan yang dapat diperlihatkan melalui wajah bundarnya. Ia berusaha keras membaca raut wajah Kayla, teman semejanya yang terlihat sangat sibuk dengan buku catatannya.
            “Hei..” kata Hanung pada Kayla.
            “Hm..?” gumam Kayla. Matanya masih sibuk pada buku catatannya.
            “Bener?” tanya Hanung.
            “Hm? Apanya? Gue udah ngitung kok, gue yakin bener!” jawab Kayla, ia mengangkat matanya menatap Hanung.
            “Iiih, apaan sih, gue ngga peduli sama pe-er Fisika lo itu! Bukan itu yang gue maksud, kay,” Hanung akhirnya merubah posisi duduknya yang tadinya meletakkan kepalanya di atas telungkupan tangannya di meja menjadi duduk tegak menghadap Kayla.
            “Oh, bukan.. terus maksudnya apa?” tanya Kayla.
            “Ra-fi. Bener, kalian Cuma sahabatan?” sambung Hanung, “Mana ada sahabatan yang kayak kalian. Anak SD juga tau kalau kalian ngga sekedar teman.”
            “Hah?” Kayla berpikir sebentar lalu bertanya kembali, “Ini kita ngomongin apa sih, gue kok ngga ngerti-ngerti arah pembicaraannya, ya?”
            “Kay, serius!” Hanung mulai emosi. Tapi mau emosi segimanapun, wajah baby face-nya Hanung ngga akan bikin orang ngerti kalau dia itu lagi serius, atau sangat, sangat, sangat serius.
            “Iya! Gue juga seri-us! Seri-us nya seri-bu malah!” jawab Kayla lalu nyengir lebar pada Hanung.
            “Aaah, kayla... nih, dengerin gue! Elo, dan Rafi itu sekarang berapa umurnya? Udah tujuh belas! Berapa tahun lo sama dia temenan? Kata ibu gue, yang namanya sahabatan sama cowok tuh ngga ada yang murni, kay. Seenggaknya gue Cuma pengen tau, apa bener.., elo ngga ada perasaan di luar batas sahabat buat dia? Gue ini kan sahabat lo juga, gue Cuma peduli aja sama lo..” Hanung tersenyum puas, kali ini ia berhasil membuat Kayla termenung.
            “Kay? Jangan nangis terharu gitu.. gue tau omongan gue tadi itu sangat menakjubkan kok.. tapi jangan nangis ya, sayang?” Hanung menepuk-nepuk pundak Kayla.
            “Han, gue tau. Gue baru tau sekarang.” Kayla menatap tajam Hanung.
           Tau apa ini anak? Apa dia sebenernya suka sama Rafi? Gawat doong.. Kay, pliiis, jangan bilang lo suka Rafi.. jangan.., jangan..
            “Ta.. tau apa?”
            “Gue tau, sebenernya elo bukan peduli sama gue..”
            “Haaaah?”
            “Sebenernya.. elo ngga mau kehilangan gue aja kaaaaaan.. ya, kaaaan... hahahaha,” Kayla tertawa puas. Hanung memukul pundak Kayla dengan gemas. Huft.. untung bukan.. aduh.. gimana kalau Kayla itu sampe suka sama Rafi.. gimana kalau dia tau kalau Rafi itu..
            “’Kalau Rafi itu’ apa? Apa maksud lo soal ‘kalau Rafi itu’?” Kayla menghentikan tawanya dan bertanya pada Hanung yang terkejut. Tadi dia menyuarakan apa yang ia pikirkan.
            “Ah.. ehm.. nggaaa.. bukan apa-apa kook, Kay.. beneran bukan hal penting! Rafi ini.. apa sih yang penting dari dia? Ngga ada. Udalah, yuk kita koreksi pe-er lo..” Hanung mengalihkan pembicaraan. Kayla menatap Hanung curiga. Ada apa dengan Rafi? Kenapa Hanung ngga mau cerita? Apa Hanung suka Rafi? Aduuuh.. kenapa gue jadi bete? Baguskan, kalau sahabat gue saling sayang? Tapi kenapa mikirinnya gue jadi bete..
| >_< | >.< | =.= | =_=”|

Rumah nomor 718, Blok K, Perumahan Margahayu Asri

            Sudah lima menit Kayla berdiri di depan pintu kamar Rafi. Berkali-kali di ketuk si empunya kamar tidak juga menyahut. Kayla bertindak nekad dengan masuk tanpa izin, ia membuka pintu dan masuk kedalamnya seraya berkata, “Gue udah ngetuk, gue udah permisi, gue cuma mau balikin FD lo, jangan mikir macem-macem.”
            “Pantesan ngga disautin, orangnya aja ngga ada disini.. Fira nglindur nih, katanya kakaknya ada di kamar.. aaah, ngabisin waktu gue aja..” celoteh Kayla saat mendapati kamar Rafi kosong, kosong tidak ada orang di dalamnya bukan kosong tidak ada barang-barang, kamar Rafi sangat berantakan saat berjalan kaki Kayla selalu terantuk sesuatu. Kayla menendang CDR-Case dan beberapa CD-R yang tidak dimasukkan dengan benar tercecer keluar akibat senggolan Kayla. Kayla menunduk mulai membereskan CD-R dengan omelan tentang betapa tidak sopannya lelaki yang mengatai cara tidur seorang wanita seperti orang koma sedangkan dirinya sendiri mempunyai kamar yang mirip kandang hewan ternak.
            Ketika meletakkan CDR-Case, mata Kayla menatap handphone Rafi yang sedang berkelip-kelip tanda ada pesan baru. Pikiran jahil Kayla mulai beraksi. Ia dengan lincah membuka kode hp Rafi dan membaca pesan yang baru saja masuk.
            From: Rena
                 Udah belum mandinya?
            Rena? Rena mana? Rena IPS 2B? Sejak kapan Rafi deket sama cewek selain gue?
            Kayla iseng menjawab pesan itu, ‘Udah kok, Ren..’. tiga detik kemudian balasan datang, cepet amat ngetiknya, ckckck.
            From: Rena
                Hm.. td pgi km brng sm Kayla lg y?

                To: Rena
                Iy. Tiap hari jg brng.

                From: Rena
                Tiap hari?? Km gx bs jmput aku, tp bs jmput dy!!
           
Kenapa Rena marah? Jemput dia? Emang Rafi sopirnya? Apa.. Rafi part time jadi sopirnya Rena? Masa sih dia segitu bokeknya..

            To: Rena
                G jmput dy. Rmh dy kan emng di sblh rmh ak. Mo gmn lg. Ksian klw dy jd telat kan.

                From: Rena
                Oh, gt? Buat KAYLA smua’a jd GAPAPA. Buat aku smua’a jd SUSAH. Yaudah. Pacaran aja sna sm KAYLA.

            Kayla diam membeku. Pacaran? Apa maksudnya? Rafi, dan Rena pacaran? Kenapa gue jadi lemes sih!
            “Kay?” Panggilan Rafi menyadarkan Kayla, “FD-nya taro aja di meja. Lo liat hp gue nggak?” Rafi membuka lipatan-lipatan selimut. Lalu ia menoleh menatap Kayla yang diam tidak merespon apapun perkataannya. Kemudian ia melihat handphonenya di tangan Kayla. Rafi segera merebut hp dan membaca pesan yang terbuka.
            “Elo buka SMS gue ??” tanya Rafi gusar. Kayla tersentak mendengar suara Rafi yang kasar. Kayla memberanikan diri untuk bertanya, “Raf.. elo.. dan Rena.. jadian?” Kayla berbisik lirih. Lama tidak ada respon dari Rafi. Ia terlihat sedang berpikir keras.
            “Raf?” Kayla bertanya sekai lagi. Rafi mengangkat wajahnya, menatap Kayla, lalu mengangguk pelan.
            “Oh.. begitu..” Kayla mencoba menjernihkan pikirannya, “Ke, kenapa ngga cerita dari dulu! Gue kan bisa minta traktiran! Mana PJ buat gue?? Pokoknya harus di bayar! Ga mau tau, pokoknya mie ayam mas Jono, ya!” Kayla menepuk lengan Rafi, karena ia tidak cukup bersemangat seperti yang ia ucapkan untuk menepuk pundak Rafi yang semakin hari semakin menjadi lebih tinggi dari pundaknya tanpa ia sadari.
            “Kay?” Rafi merasakan keanehan dari nada suara Kayla yang terkesan dipaksakan. Bukan Cuma hari ini saja Rafi mengenal Kayla, sudah dari sejak mereka belajar membaca dan menulis, mereka saling mengenal.
            “Eh, hah? Em.. Raf.. gue balik dulu ya! Gue inget mau ke Hanung sebelum Maghrib. Dah..” Ucap Kayla. Kayla berbalik keluar kamar Rafi. Ia tersandung kamus dan berpegangan pada kusen pintu.
            “Kay!” Rafi memanggil Kayla.
            “Ya?” Kayla menoleh bingung.
            “Lo kenapa?” dengan cemas Rafi menatap Kayla.
            “Gue? Ngga..” gue juga ngga tau gue kenapa, yang jelas, gue bukannya ngga kenapa-kenapa, Fi.., “gue ngga.. ngga papa kok.. gue pamit.” Setelah berkata seperti itu, Kayla membuka pintu dan keluar. Ia berjalan cepat. Untunglah tidak bertemu dengan keluarga Rafi. Kayla mengambil sepedanya dan mengayuh pedalnya dengan sangat cepat. Di depan rumah Hanung, ia turun dan membiarkan sepedanya terjatuh ke tanah, ia berjalan cepat setengah berlari menarik Hanung yang tengah menyiram tanaman ke taman perumahan di dekat rumah Hanung.
“Kay? Ada masalah apa?” Hanung menyadari sesuatu yang tidak baik telah terjadi pada Kayla.
            “Han..” Kayla menatap Hanung, jemarinya dingin dan ia hanya mampu berbicara dengan nada rendah.
            “Kenapa gue ngerasa sedih? Kenapa gue ngerasa sakit disini?” tanya Kayla, ia menyentuh bagian tempat hati berada, “kenapa gue jadi sulit bernafas? kenapa gue jadi lemes? Kenapa gue nangis sih, Han!!” Kayla mengusap air mata nya dengan kasar, ia mengangkat kakinya dan memeluk lututnya. Kayla merunduk, berusaha menyembunyikan wajah kacaunya saat ini di balik lindungan tangan dan lututnya. Hanung membiarkan Kayla puas menangis, ia hanya diam, dan mengusap-usap  punggung Kayla dengan sabar.
            “Gue kenapa sih, Han.. kenapa gue jadi cengeng? Kenapa gue ngerasa kayak orang asing?” tanya Kayla di sela tangisnya.
            “Ini.. soal Rafi, kan?” Hanung bertanya saat ia yakin kondisi Kayla sudah cukup baik.
            Kayla tidak menjawab. Diamnya Kayla sudah cukup mejadi jawaban untuk Hanung.
            “Maafin gue,Kay, gue ngga ngasih tau elo.. makannya gue tanya elo, apa bener elo ngga ada perasaan lebih dari sahabat buat Rafi, karena Rafi seminggu yang lalu jadian sama Rena, Kay.. gue takut elo jadi kayak gini, benerkan perkiraan gue.. gue ngga cuma sehari dua hari kenal elo, kay.. dari cara lo cerita tentang Rafi, dari tatapan mata lo, gue tau, elo punya yang lain lebih dari sahabat buat Rafi,  maaf gue ngga kasih tau ini lebih cepat.. maafin gue, Kay.. gue udah jahat sama lo..” suara Hanung penuh penyesalan. Kayla mengangkat wajahnya. Matanya sembab, wajahnya basah. Basah karena air mata dan ingus.
            “Ngerti, kok. Lo bukannya ngga mau cerita, tapi belum dapet waktu yang pas, kan? Bukan salah elo, kok.. gue nya aja yang bego kenapa nyadarnya sekarang..” jawab Kayla.
            Hanung menatap Kayla sedih.
            “Apa.. lebih baik kalau gue ngga sadar aja? Lebih baik gue ngga tau kalau gue...sama Rafi..” Kayla tidak sanggup mengatakan bahwa dirinya menyukai Rafi, ia hanya mampu mengosongkan bagian untuk kalimat tersebut.
            “Kayla! Lo itu ngga pernah yang namanya nyesel! Kenapa sekarang harus merasa menyesal? Elo kan pernah bilang ke gue kalau dari semua kejadian selalu ada hikmahnya, dan kenapa sekarang elo malah bikin gue mengucap ulang kata-kata elo, sih!” Hanung merasa sikap Kayla yang lemah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Hanung tidak akan membiarkan sahabatnya menjadi seorang yang lemah, hanya karena sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh Kayla sebelumnya.
            “Maaf..” Kayla menarik tatapannya dari Hanung dan menatap lampu jalan yang mulai dinyalakan. Kayla bertanya lirih, “Gue harus gimana, Han? Gue harus bersikap seperti apa kalau ketemu Rafi nanti? Gue bingung..”.
            “Biasa aja, Kay..”
            “Ngga mudah untuk bersikap biasa aja”
            “Yaudah bilang ke dia kalau lo suka dia..”
            “HANUNG! Serius nih gue!” Kayla menepuk Hanung.
            “Gue juga seri-us! Seri-bu malah.. hehehehe” Hanung mengulangi kejadian di sekolah.
            “Ah.. ngga membantu sama sekali..” Kayla menunduk kembali.
            “Ya, elo maunya gimana sekarang?” tanya Hanung seraya menunduk membaca pesan masuk di hp-nya.
            “Gue maunya dia ngga tau. Percuma dia tau juga, kenapa gue sadar kalau gue...” kalau gue suka dia, “...nya sekarang, pas dia udah ngga bisa senantiasa di deket gue.., lebih baik gue liat dia dari jauh aja..” Kayla menghela nafas panjang lalu melanjutkan, “Yang penting, dia bahagia.” Kayla menoleh dan tersenyum pada Hanung, “Lagi pula, mereka kan baru pacaran ini, bukan menikah, kan? Jadi, masih ada kesempatan buat gue dong..”
            “Iiiih, elo mikirnya kejauhan ah.. lulus SMA aja belum! Eh, tapi elo serius kalau Rafi ngajakin elo nikah, elo mau?”
            “Mungkin, hehehe. Gue mau kalau dia udah dapet kerja, udah punya rumah, dan udah bisa ngerapiin kamar sendiri! Lo tau kan kamarnya dia kayak kandang ayam! Iiih.. jorok banget!” jawab Kayla, senyumnya mulai muncul kembali.
            “KAYLA!” Kayla dan Hanung menoleh ke arah suara yang memanggil Kayla.
            “Rafi.. ngapain lo di sini?” jawab Kayla terkejut, ia sangat bersyukur sekarang sudah gelap, jadi wajah sembab-nya tidak terlihat jelas.
            “Ya jemput elo lah.. yuk, pulang! Thanks ya, Han!” seru Rafi singkat lalu menarik Kayla berdiri. Ia menyeret Kayla ke arah sepeda Kayla yang tergeletak begitu saja di depan halaman rumah Hanung.
            “Naik di belakang!” perintah Rafi.
            “Elo aja yang di belakang! Ini kan sepeda gue. Biar gue yang bawa.” Kayla menolak di perintah oleh Rafi.
            “Yaudah gue tinggal.” Rafi melajukan sepeda Kayla. Satu, dua.. Rafi menghitung dalam hati, biasanya dalam tiga detik Kayla akan memanggilnya, pada hitungan kedua ia mempercepat kayuhannya. Namun setelah hitungan ketiga, Kayla tidak juga memanggilnya, ataupun mengejarnya di belakang. Rafi menghentikan sepeda dan menoleh mencari sosok Kayla yang berlari kelelahan di belakangnya, tapi yang terlihat sosok Kayla yang berjalan perlahan, kepalanya tertunduk lesu. Rafi memutar balik sepedanya an berhenti di samping Kayla.
            “Elo kenapa, sih?” Rafi menahan lengan Kayla.
            “Udahlah.. duluan aja, gue tau jalan pulang kok, bawa aja sepeda gue.” Kayla melepaskan tangan Rafi dan berjalan kembali.
            “Kay, Kayla!” Rafi turun dari sepeda dan mengejar Kayla yang mulai berlari.
            “Kenapa lo lari sih, udah malem gini masih main ngambek-ngambekan!” seru Rafi setelah berhasil menahan tangan Kayla lagi.
            “Gue ngga papa kok, gue Cuma ngga mau ngerepotin elo aja, berat gue nambah dua kilo minggu ini” Kayla menjawab dengan menundukkan kepala.
            “Ya ngga apa-apa! Bawa elo sih gue masih kuat! Udah, ayo pulang!” Rafi menereti  
    Kayla menghampiri sepeda, kali ini ia terus menggenggam jemari Kayla hingga gadis itu mau duduk manis dibelakangnya.
            “Kenapa sih.. kenapa elo peduli banget sama gue..” tanya Kayla lirih. Ia menyandarkan kepala pada punggung Rafi. Rafi hanya diam mendengarkan, ia tahu gadis di belakangnya ini sedang ada masalah, entah apa masalahnya, ia hanya perlu mendengarkan saja saat ini.
            “Gue kan Cuma ngerepotin elo aja, Raf.. gue ngga mau bikin hubungan lo sama Rena jadi buruk.. dia marah ngga soal sms tadi sore?”
            “Engga, kok” Rafi menjawab pelan.
            “Dia ngga suka sama gue, kan, Raf?” suara Kayla memelan, ia berusaha menahan keinginan untuk menangis lagi. Rafi hanya diam, lalu Kayla melanjutkan, “Baiknya gue ngga deket-deket elo lagi, ya?”. Rafi tetap diam. Mereka telah sampai di depan rumah Kayla. Kayla turun membiarkan Rafi memasukkan sedepanya ke garasi rumahnya. Ia berdiri bersandar pada pitu garasi.
            “Gue balik dulu, sana cepet masuk.” Ucap Rafi. Kayla mengangguk singkat lalu masuk ke rumahnya. Rumah nomor 717.
| >_< | >.< | =.= | =_=”|

06.05 WIB
           
            Kayla berjalan kaki ke depan perumahan untuk naik bis menuju sekolahnya. mulai hari ini ia ingin lebih menjaga jarak dari Rafi. Untuk kepentingan dirinya, dan untuk Rafi juga.
            Lamunan Kayla di buyarkan suara klakson motor di belakangnya. Kayla tersentak dan mengutuk si pengndara yang tidak mengambil jalan lain yang masih luas di sebelah kanan sana. Masih bersungut-sungut kesal, Kayla menggeser arah jalannya ke kiri. Tapi si pengndara masih juga membunyikan klakson nya, bahkan lebih keras dan lebih cepat dari sebelumnya. Kayla menoleh dengan kesal.
            “Ini balesan buat orang yang setia nungguin elo tiap pagi??” Si pengendara yang tidak lain adalah si biang kerok Rafi memajukan sepeda motornya agar dapat sejajar dengan Kayla yang diam mematung.
            “Kenapa pergi duluan? Emangnya elo tau musti naik bus apa? Ongkosnya berapa? Elo kan kemana-mana sama gue, mana mungkin lo tau.”
            “Gue bisa tanya orang yang di halte.” Sergah Kayla tidak mau kalah.
            “Buruan naik, bareng gue aja.”
            “Ngga.” Kayla menolak.
            “Kenapa enggak?” tanya Rafi. Kayla hanya diam.
            “Kay, naik. Gue nggak nyaman kalau elo ngga ada di belakang gue.” Pinta Rafi. Kayla menghentikan langkahnya, ia berbalik perlahan dan menatap Rafi.
            Apa sih yang gue lakuin? Gue malah bikin Rafi kuatir.. apa sih yang gue cari? Kekanakan banget yang gue lakuin..
            Kayla mendekati Rafi, ia memanjat naik dan duduk tenang di belakang Rafi.
            “Yaaah, kalau elo memaksa gitu, gue ngga tega juga jadinya..” goda Kayla seraya menyelipkan jemarinya pada ransel Rafi. Begitulah cara dirinya berpegangan pada Rafi.
            “Gimana elo aja deeeeh..” jawab Rafi, ia tersenyum lega karena Kayla mau menurut. Ia segera melajukan sepeda motornya.
            Kayla tersenyum senang. Bolehkan, Fi? Gue boleh punya perasaan ini kan? Gue ngga mengharapkan apapun dari elo, gue Cuma berharap elo bahagia, kalau elo bahagia, semua itu lebih dari cukup buat gue.. seandainya nanti elo juga punya perasaan yang sama dengan yang gue rasain.. yah, untuk sekarang, gue Cuma bisa berandai sampe situ aja.. gue yakin.. tulang rusuk tidak akan tertukar, kan? Kalau emang kita jodoh, Tuhan ngga akan membuat hubungan ini menjadi sulit, kan?

--Selesai | >_< | >.< | =.= | =_=”|


Purwakarta, 29 July 2011, 21:27


Tidak ada komentar:

Posting Komentar